Liburan Panjang di Pantai Tambak Udang, Pulau Bangka

detikTravel Community –  

Pulau Bangka adalah tempat yang juga asyik untuk mengisi liburan panjang kali ini. Cobalah mampir ke Pantai Tambak Udang. Lautnya bersih dan pemandangannya indah. Liburan panjang pun makin berkesan.

Liburan di Pulau Bangka satu minggu saja rasanya tidaklah cukup, sebab terlalu banyak tempat wisata yang harus dikunjungi dan sayang bila diabaikan begitu saja. Pantai misalnya, menghitung jumlah pantai di sana dengan seluruh jarii yang kita miliki tidak akan pernah cukup. Setiap sudut Pulau Bangka sepertinya pantai semua, cantik-cantik pula.

Salah satu wilayah yang mempunyai banyak pantai di Bangka adalah Kabupaten Bangka Selatan. Sesuai dengan namanya, daerah ini berada paling ujung selatan Pulau Bangka. Salah satu pantai itu misalnya adalah Pantai Tambak Udang.

Nama pantai ini mungkin agak terasa asing. Maklum, dulunya pantai ini merupakan wilayah yang sama dengan Pantai Tanjung Kerasak yang sudah ternama itu. Namun seiring dibangunnya sebuag tambak udang oleh pemerintah setempat, pelan-pelan pantai ini mempunyai nama panggilan baru, Pantai Tambak Udang.

Secara geografis, pantai ini memang berbatasan langsung dengan Pantai Tanjung Kerasak di bagian timur, serta Pantai Tanjung Kemirai di bagian baratnya. Dua pantai itu sudah lama dikenal sebagai daerah wisata di selatan Pulau Bangka. Sama halnya dengan pantai Tanjung Kerasak dan Pantai Tanjung Kemirai, Pantai Tambak Udang pun secara administratis berada di wilayah Desa Pasirputih, Kecamatan Tukak Sadai, Kabupaten Bangka Selatan.

Lalu, apa bedanya pantai ini dengan dua pantai yang mengapitnya? Tentu saja ada perbedaanya, sekecil apapun. Pertama, sebelum sampai di pantai, dalam perjalanan menuju lokasi, kita akan disajikan pemandangan birunya laut Pantai Tambak Udang dari ketinggian. Lalu, di pantai ini suasananya juga masih hening, daun pohon kelapa melambai-lambai dari ketinggian. Selain itu, dari pantai ini juga dapat dengan mudah melihat laut lepas, di samping pepohonan bakau yang tersusun rapi.

Di samping itu, Anda tak perlu tsayat, akses menuju pantai ini cukup mudah. Apalagi jalannya sudah beraspal, meskipun agak sempit. Sepanjang jalan, kita pun dapat melihat perkebunan lada, komoditas khas Pulau Bangka yang diekspor sampai ke Eropa. Salam traveller!

Posted by GokiL - April 20, 2014 at 2:31 am

Categories: GokiL   Tags: , , , , , ,

Pengaruh Ganja, Ibu Muda Taruh Bayinya di Atap Mobil yang Berjalan

Arizona , Seorang ibu muda berusia 21 tahun, Catalina Clouser, dijatuhi hukuman 16 tahun penjara dengan masa percobaan tiga bulan setelah meletakkan bayinya yang berusia dua bulan di atap mobil. Parahnya Clouser kemudian mengemudikan mobil itu.

Kejadian ini berlangsung tanggal 2 Juni 2012 saat saksi mata menghubungi polisi setelah menemukan bayi terikat di car seat anak di tengah jalan. Catalina mengakui kesalahannya bulan Februari lalu. Ia bahkan mengaku berada di bawah pengaruh ganja ketika meletakkan bayinya di atap mobil dan mengemudikan kendaraannya.

“Mobil tersangka sudah melaju sekitar 400 meter sebelum bayi yang berada di car seat itu terjatuh. Si bayi diperiksa ke rumah sakit setempat dan tidak mengalami cedera,” tutur Jaksa Tiffany Brady seperti dikutip dari HLN TV, Sabtu (19/4/2014).

Pada hari yang sama, suami Clouser juga ditangkap karena terbukti menggunakan ganja. Saat itulah, si bayi berada bersama ibunya. Dikatakan Brady, ibu Clouser merekomendasikan hukuman percobaan intensif untuk puterinya.

Pasalnya, Clouser sudah berulang kali menggunakan obat-obatan terlarang diam-diam. Meski demikian, Hakim Cynthia Bailey mengatakan tidak ada bukti obyektif bahwa Clouser sudah menggunakan obat terlarang selama dua tahun.

Ia pun sudah melewati semua tes narkoba. Sementara itu, pengacara Jennfier Willmott menuturkan Clouser memiliki masalah akibat trauma yang dialaminya.

“Clouser sudah melakukan segala cara untuk menyembuhkan trauma yang membuat ia kadang terlalu sembrono. Ia sudah ikut kelas konseling bahkan saat di penjara Clouser membangun kembali hubungan dekat dengan puterinya,” kata Willmott.

(rdn/vit)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

Posted by GokiL -  at 2:22 am

Categories: GokiL   Tags: , , , , , , , ,

Manta Untuk Indonesia

detikTravel Community –  

Beberapa tahun terakhir , populasi pari manta di dunia semakin menurun. Meningkatnya perburuan akan insang manta yang digunakan sebagai bahan obat tradisional cina yang dipercaya bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh hingga mengobati kanker dan itulah menjadi alasan utama mengapa perburuan manta kian marak dan terjadi di berbagai belahan dunia.

 

Dan Indonesia berada di posisi tiga besar setelah srilangka dan india , sebagai Negara pengekspor insang manta di pasar dunia , untuk menjaga populasi pari manta di wilayah perairan Indonesia , Negara kita telah mengesahkan undang undang yang melarang penangkapan dan ekspor terhadap ikan yang menjadi daya tarik wisata dunia ini.

 Keputusan Menteri Kelautan dan perikanan Republik Indonesia nomor 4 / Kepmen-kp /2014 , memberikan perlindungan penuh kepada pari manta diseluruh wilayah perairan Indonesia yang luasnya mencapai 5,8 juta kilometer dan kini Indonesia menjadi wilayah perlindungan pari manta terbesar didunia.

 

Namun , walaupun telah ditetapkan peraturan akan larangan tangkap terhadap pari manta , penangkapan masih terjadi . seperti halnya yang kami temui di pasar tanjung luar Lombok timur . nelayan dari berbagai daerah di kawasan timur Indonesia menjual hasil tangkapannya seperti manta dan juga hiu di pasar ini.

Tak hanya pari manta dan hiu yang ada di pasar ini , jenis mobula rays pun kami temukan dalam keadaan mati di lantai tempat pelelangan ikan. sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan , terlebih sangat sulit sekali menemukan pari jenis ini saat menyelam.

Semakin terancamnya populasi manta yang ada di indonesia , membuat para aktifis dan peneliti baik yang berasal dari indonesia maupun luar negeri ikut aktif dalam menyuarakan pentingnya untuk menjaga populasi manta yang ada di perairan indonesia.

Bersama peneliti dari manta trust sarah lewis , riyanni djangkaru akan meneliti populasi manta dengan cara mengidentikasi manta dari totol totol yang ada di bagian perutnya atau dikenal dengan Manta ID. 

 

Setiap manta memiliki bintik bintik dengan pola yang cukup unik pada bagian bawah tubuhnya , bintik ini seperti halnya sebuah identitas bagi setiap manta . tanda ini digunakan oleh para peneliti seperti halnya sarah, untuk dapat mengetahui populasi manta.

Kami berhasil menemukan 3 ekor manta yang sedang bermain di dekat permukaan air. Manta merupakan spesies yang sangat cerdas dan memiliki rasio massa otak lebih besar dibandingkan jenis ikan lainnya , ikan ini memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar, mereka seringkali mendekati para penyelam yang berada di sekitarnya.

Indonesia menjadi Negara kedua setelah maladewa , yang memiliki pendapatan tertinggi dari sector pariwisata manta yang ada didunia atau sekitar 10 persen dari total pendapatan wisata manta dunia.

Karena itulah , jika dilihat dari sisi ekonomi terjaganya populasi manta di Indonesia bisa lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan penjualan insangnya dan bisa menjadi pendapatan yang berkelanjutan di masa mendatang.

FOLLOW juga akun twitter resmi @JejakPetualang7 untuk update info terkini dari Jejak Petualang @TRANS7

 

 

 

 

 

Posted by GokiL - April 19, 2014 at 11:29 pm

Categories: GokiL   Tags: , ,

Memijat Hingga Ajak Jalan-jalan, Tips Para Suami Agar ASI Istri Lancar

Jakarta, Hormon oksitoksin merupakan hormon paling penting dalam proses pembuatan ASI oleh ibu. Sejatinya, hormon ini dihasilkan secara otomatis oleh ibu yang sedang menyusui. Akan tetapi, jika tidak dijaga, produksi hormon ini akan terhenti, sehingga kemungkinan besar si ibu tidak mampu menghasilkan ASI.

Oleh karena itu, peran ayah dalam menjaga perasaan ibu tetap senang dan bahagia sangatlah penting. Ray (32) ayah dari satu putra, mengaku rajin memijat istrinya setiap malam demi menjaga perasaan istrinya tetap senang.

“Istri saya pekerjaanya kan karyawati bank. Jadinya sering berdiri dan mengeluh letih. Dulu ketika hamil dan masih memberikan asi ekslusif saya sering pijatin kaki istri. Alhamdulillah nggak pernah seret keluar ASInya,” ujar Ray di sela-sela acara ulang tahun Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dan Komunitas Ayah ASI di Taman Bunga, Kompleks TMII, Jakarta Timur, Sabtu (19/4/2014).

Beda orang beda pula perlakuannya. Dony (26) seorang ayah muda dari Pasar Minggu, mengaku senang mengajak istrinya jalan-jalan. Lokasinya memang berbeda-beda, namun tempat yang paling sering didatangi oleh mereka adalah Kebun Binatang Ragunan yang terletak di Jakarta Selatan.

“Kebetulan istri sudah tidak bekerja semenjak hamil 7 bulan. Tapi karena dia sering mengeluh bosan, makanya saya sering ajak jalan-jalan. Nggak usah ke tempat yang jauh, ke kebun binatang Ragunan saja yang dekat dari rumah,” urai Dony.

Shafiq Pontoh, salah satu pencetus komunitas Ayah ASI mengakui bahwa memang ada berbagai macam cara yang dapat dilakukan seorang ayah agar bayinya tetap mendapat ASI yang cukup. Berdasarkan pengalamannya mengelola akun twitter ID_AyahASI, mengajak belanja dan memijat memang menjadi cara mudah membuat istri tetap senang.

“Kalau teman-teman di Ayah ASI kan banyak caranya. Ada yang pijat, ada yang belanja, ada yang membelikan istrinya tas, sepatu, dan lain sebagainya. Intinya agar si istri tetap senang dan produksi ASI tetap keluar secara lancar,” papar Shafiq.

Jadi untuk para ayah, apa yang sudah Anda lakukan untuk istri tercinta? Pijat, belanja atau jalan-jalan? Silakan tentukan sendiri dengan mendasarkan pada kesenangan sang istri tentu saja.

(vit/vit)

Ingin Mendapatkan Rp 500,000 dari detikHealth ? Ceritakan Pengalaman Dietmu di Sini

Posted by GokiL -  at 11:22 pm

Categories: GokiL   Tags: , , , , , , , , ,

Jerih Payah ke Pulau Sempu

detikTravel Community –  

Pulau Sempu bisa jadi destinasi asyik untuk liburan panjang kali ini. Tapi ingat, karena ini cagar alam, jaga betul-betul kebersihannya. Minta izin petugas dan yang penting, jangan buang sampah sembarangan ya!

Inilah sepenggal kisah travelling para pemuda HKBP Manyar ke Pulau Sempu saat liburan Nyepi yang lalu. Sepakat berkumpul di gereja pukul 04.30 WIB, supaya bisa berangkat pukul 05.00 WIB kurang. Ternyata oh ternyata, semua hanya rencana belaka. Bisa-bisanya kami berangkat dari gereja pukul 07.30 WIB.

Akhirnya, setelah adegan tak tahu jalan, nyasar-nyasar sedikit, sampailah kita di Pantai Sendang Biru pukul 15.30 WIB. Istirahat sebentar, siapkan barang yang mau dibawa, siapkan tenaga, dan mental. Kita menyeberangi Selat Semut, sampai di tepi pantai Pulau Sempu. Bagi-bagi barang bawaan, atur formasi, lets’s rock!

Mulai memasuki kawasan pulau tak berpenghuni, banyak orang yang kembali dari trekking mereka dengan keadaan yang mengenaskan, lebih-lebih dari petani usai membajak sawah. Waktu itu saya masih pakai sandal jepit, begitu lihat orang-orang pada menyeker dengan kondisi yang cukup sulit, menyeker pun menjadi pilihan paling bijaksana buat saya waktu itu.

Menurut info para pendahulu, normalnya kita bisa sampai di Segara Anakan sekitar 3 jam. Kalau orangnya banyak, mungkin 4 jam. Semua langsung semangat, ayo cepat-cepat, sudah mau gelap bentar lagi. Suara-suara motivasi mulai bergaung.

Kita berjalan, berjalan, dan berjalan. Melewati kubangan becek dan lumpur, hutan mangrove, 22 orang. Entah bagaimana ceritanya, tim kami yang ber-22 orang ini terpisah menjadi 2 kelompok. Enam orang berjalan lebih dulu, rombongan Hadi, Jeffri, Denni, Elton, Parulian, dan Mike, sedangkan kami tersisa ber-16 orang. Entah bagaimana ceritanya pula, kami sudah seperti satu tim dengan gerombolan Kaskus-Traveller yang juga terpisah dari timnya.

Entah sudah berapa jauh perjalanan, salah satu cewek di tim par-Kaskus pingsan. Terlalu lelah dengan perjalanan dari Jakarta, ditambah medan yang tidak mereka ketahui awalnya, membuat mereka kaget teramat sangat. Kami berhenti, istirahat, pasang obor, berusaha mencari cara untuk SOS. Satu hal yang menarik buatku di sini adalah pertanyaan, “Siapa yang menyesal ikut?”

Setelah si Mbak cukup siap untuk melanjutkan adventure ini, kami mulai menelusuri hutan lagi, menelusuri kegelapan dengan perjuangan yang sama tapi formasi yang berbeda-beda. Haris harus berjuang dengan nasi bungkus yang tak berwujud lagi, lalu berganti dengan tenda yang juga tak berwujud. Man of the match deh. Asli, entah bagaimana caranya dia bisa sekuat itu.

Denisa harus berjuang dengan kakinya yang sakit, Yohana dengan kaki yang baru saja cekeran karena sepatunya terkubur di dalam lumpur. Awalnya dia tidak rela dengan sepatunya, hingga meminta tolong para cowok untuk mengambil dan membuat antrean jalan menjadi panjang, Kak Esta dengan tasnya yang lebih tepat untuk jalan-jalan, Kak Junitri dengan sekardus mie instantnya, Elis dengan berbagai penyesalan kenapa tidak bangun jam setengah sepuluh saja supaya tidak jadi ikut, dan lain-lain, dan lain-lain. Terlalu banyak cerita untuk dituliskan dalam catatan ini.

Hampir setengah dua belas malam, kami menjumpai pertigaan. Galau melanda rombongan kami, jalan mana yang harus dipilih. Kiri atau kanan? Asli buta arah semua. Yang sudah pernah ke sini, merasa sepertinya kami sudah salah jalan. Bayangkan tujuh jam berjalan dan tak sampai-sampai, tersesat di hutan pula.

Tiba-tiba ada teriakan, “Ooooii!” Sahut-sahutan pun terjadi beberapa saat. Kami bergembira, mengira Denni cs menjemput kami, ternyata oh ternyata rombongan nyasar bertambah lagi, kali ini dari rombongan Bojonegoro. Mereka pun tak tahu arah, harapan melanjutkan perjalanan pupus lagi. 10 menit kemudian, ada suara lagi. Ternyata seorang bapak, guide dari rombongan Malang. Mengetahui ada rombongan yang menggunakan jasa guide yang pasti tahu arah perjalanan menembus kegelapan ini, wajah sumringah muncul lagi, secercah harapan membuat kami semua langsung bangkit.

Berjalan dan berjalan. Jangan tanya apakah ada hujan, karena entah sudah berapa kali hujan turun dan berhenti seiring doa-doanya Bang Paul. Isu-isu akan sampai sudah terngiang-ngiang, deru ombak mulai terdengar, tapi jalan yang harus ditempuh itu begitu terjal. Tapi akhirnya kami sampai juga. Akhir bahagia dari adventure gila-gilaan ini. Saya dan Yohana disambut oleh Denni, Jeffri, Parulian, Mike yang bak malaikat pada saat itu.

Semua berakhir indah. Jika kita tidak telat, insiden telat Neng Elis, jika tidak ada insiden pom bensin, adegan cari-cari tempat makan, mungkin ceritanya tidak seseru ini. Terima kasih untuk siapa-pun yang sudah membantuku menapaki Bumi Sempu. 10 jam menelusuri hutan itu, pengalaman tak terlupakan-lah. Bekal cerita untuk anak-cucu nanti.

Posted by GokiL -  at 8:30 pm

Categories: GokiL   Tags: , , ,

Next Page »